Saya menunggu kesempatan itu.
Pulang ke Jogjakarta yang tidak sekedar ke rumah, melepas kangen
dengan saudara, lalu ziarah ke makam orangtua.
Saya ingin pulang, bersama karya saya yang selama ini saya buat di Depok.
Saya ingin pulang dengan ide-ide terkait seni rupa.
Kesempatan itu datang, diawali melihat pengumuman acara Jogja ArtWeeks yang ada
di media sosial, dimana acara tersebut membuka peluang seniman untuk bisa ikut
dengan mengirim aplikasi konsep seni yang di tawarkan.
Lalu saya mulai berpikir, apa yang akan saya tawarkan untuk berpartisipasi
di acara tersebut.
Teringat beberapa waktu yang lalu saya mengerjakan proyek menggambar vinyet yang kemudian
saya terbitkan secara swa kelola dalam bentuk zine vinyet kota.
Sepertinya bisa saya kemas untuk diikutsertakan dan mencuri perhatian.
Teringat pula aktivitas saya akhir - akhir ini membuat graphic recording yang
kemudian saya namai notulensi grafis. Lalu saya berpikir untuk menggabungkan
keduanya menjadi satu konsep berkesenian. Mengolah ide dalam bentuk notulensi
grafis kemudian mengolah lagi menjadi karya seni dengan gaya vinyet.
Lalu saya mengirimkan konsep itu ke panitia. Seleksi tahap awal lolos, kemudian berlanjut ke wawancara telepon, karena panitia di jogja sedang saya di Depok.
Tahap berikutnya adalah wawancara dengan fasilitator.
Saya bertemu dengan mas Yudi yang mewakili panitia Jogja Artweeks, di sebuah kantor yang
terletak di belakang Antam Jagakarsa.
Setelah ngobrol dan makan siang dengan menu yang “jogja sekali” kemudian saya
mempresentasikan konsep karya yang akan ditampilkan.
Saya menjelaskan proses “bertemu” vinyet lalu kemudian mengembangkan gaya rupa vinyet
yang sudah banyak ditinggalkan para perupa.
Sampai kemudian membuat zine vinyet kota untuk menampung gambar vinyet yang saya buat.
Setelah itu saya melanjutkan mempresentasikan novis, notulensi ide lewat grafis yang akan
menjadi awal proses membuat karya. Dari novis itu kemudian ide akan dikembangkan lagi
menjadi gambar vinyet sebagai hasil akhir artwork.
Hasil akhir yang diharapkan adalah, ada rangkaian visual proses menggambar, diawali dari ide
kemudian menjadi notulensi visual, lalu menjadi gambar vinyet.
Saya butuh space sekitar empat meter untuk mewujudkan itu.
Oborlan berlangsung seru karena mungkin kita hampir sama, pernah mengalami era vinyet
menjadi visual di koran ataupun majalah.
Mas Yudi memberi banyak masukan terkait visualisasi vinyet yang bisa
dikembangkan ke banyak media cetak, tidak cuma di tampilkan di zine, bisa dicetak
di atas kaos dan material lain yang intinya bisa dijual.
Proses wawancara selesai, saya akan di hubungi lagi untuk tahapan finalisasi karya, yang itu
berarti saya harus pulang ke jogja.
Semoga lancar, sehingga cita-cita saya untuk bisa pulang membawa karya bisa terlaksana :)
Pulang ke Jogjakarta yang tidak sekedar ke rumah, melepas kangen
dengan saudara, lalu ziarah ke makam orangtua.
Saya ingin pulang, bersama karya saya yang selama ini saya buat di Depok.
Saya ingin pulang dengan ide-ide terkait seni rupa.
Kesempatan itu datang, diawali melihat pengumuman acara Jogja ArtWeeks yang ada
di media sosial, dimana acara tersebut membuka peluang seniman untuk bisa ikut
dengan mengirim aplikasi konsep seni yang di tawarkan.
Lalu saya mulai berpikir, apa yang akan saya tawarkan untuk berpartisipasi
di acara tersebut.
Teringat beberapa waktu yang lalu saya mengerjakan proyek menggambar vinyet yang kemudian
saya terbitkan secara swa kelola dalam bentuk zine vinyet kota.
Sepertinya bisa saya kemas untuk diikutsertakan dan mencuri perhatian.
Teringat pula aktivitas saya akhir - akhir ini membuat graphic recording yang
kemudian saya namai notulensi grafis. Lalu saya berpikir untuk menggabungkan
keduanya menjadi satu konsep berkesenian. Mengolah ide dalam bentuk notulensi
grafis kemudian mengolah lagi menjadi karya seni dengan gaya vinyet.
Lalu saya mengirimkan konsep itu ke panitia. Seleksi tahap awal lolos, kemudian berlanjut ke wawancara telepon, karena panitia di jogja sedang saya di Depok.
Tahap berikutnya adalah wawancara dengan fasilitator.
Saya bertemu dengan mas Yudi yang mewakili panitia Jogja Artweeks, di sebuah kantor yang
terletak di belakang Antam Jagakarsa.
Setelah ngobrol dan makan siang dengan menu yang “jogja sekali” kemudian saya
mempresentasikan konsep karya yang akan ditampilkan.
Saya menjelaskan proses “bertemu” vinyet lalu kemudian mengembangkan gaya rupa vinyet
yang sudah banyak ditinggalkan para perupa.
Sampai kemudian membuat zine vinyet kota untuk menampung gambar vinyet yang saya buat.
Setelah itu saya melanjutkan mempresentasikan novis, notulensi ide lewat grafis yang akan
menjadi awal proses membuat karya. Dari novis itu kemudian ide akan dikembangkan lagi
menjadi gambar vinyet sebagai hasil akhir artwork.
Hasil akhir yang diharapkan adalah, ada rangkaian visual proses menggambar, diawali dari ide
kemudian menjadi notulensi visual, lalu menjadi gambar vinyet.
Saya butuh space sekitar empat meter untuk mewujudkan itu.
Oborlan berlangsung seru karena mungkin kita hampir sama, pernah mengalami era vinyet
menjadi visual di koran ataupun majalah.
Mas Yudi memberi banyak masukan terkait visualisasi vinyet yang bisa
dikembangkan ke banyak media cetak, tidak cuma di tampilkan di zine, bisa dicetak
di atas kaos dan material lain yang intinya bisa dijual.
Proses wawancara selesai, saya akan di hubungi lagi untuk tahapan finalisasi karya, yang itu
berarti saya harus pulang ke jogja.
Semoga lancar, sehingga cita-cita saya untuk bisa pulang membawa karya bisa terlaksana :)





No comments:
Post a Comment